{"id":819,"date":"2025-10-08T00:31:12","date_gmt":"2025-10-08T00:31:12","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=819"},"modified":"2025-10-08T00:31:12","modified_gmt":"2025-10-08T00:31:12","slug":"ikan-angler-sang-pemburu-dengan-umpan-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/10\/08\/ikan-angler-sang-pemburu-dengan-umpan-hidup\/","title":{"rendered":"Ikan Angler, Sang Pemburu dengan Umpan Hidup"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"6250\" data-end=\"6304\">Ikan Angler, Sang Pemburu dengan Umpan Hidup<\/h3>\n<p data-start=\"6305\" data-end=\"7210\">Ikan angler atau anglerfish terkenal karena umpan bercahaya di atas kepalanya yang digunakan untuk menarik mangsa di laut dalam yang gelap. Hewan ini hidup di kedalaman ribuan meter di mana cahaya matahari tidak mampu menembus. Cahaya yang dihasilkan berasal dari bakteri bioluminesen yang hidup di organ khusus di ujung antenanya. Ketika mangsa mendekat karena tertarik pada cahaya, ikan angler dengan cepat membuka mulut besarnya dan menelannya dalam satu gerakan. Betina jauh lebih besar dari jantan dan memiliki bentuk tubuh mengerikan dengan gigi tajam. Menariknya, jantan yang jauh lebih kecil akan menempel pada tubuh betina secara permanen, bergabung menjadi satu organisme. Adaptasi ini unik di dunia hewan dan memungkinkan mereka bereproduksi di lingkungan ekstrem. Ikan angler menjadi contoh menakjubkan bagaimana kehidupan dapat berkembang di tempat paling gelap dan bertekanan tinggi di bumi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ikan Angler, Sang Pemburu dengan Umpan Hidup Ikan angler atau anglerfish terkenal karena umpan bercahaya di atas kepalanya yang digunakan untuk menarik mangsa di laut dalam yang gelap. Hewan ini hidup di kedalaman ribuan meter di mana cahaya matahari tidak mampu menembus. Cahaya yang dihasilkan berasal dari bakteri bioluminesen yang hidup di organ khusus di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-819","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=819"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":820,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819\/revisions\/820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}