{"id":809,"date":"2025-10-08T00:30:35","date_gmt":"2025-10-08T00:30:35","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=809"},"modified":"2025-10-08T00:30:35","modified_gmt":"2025-10-08T00:30:35","slug":"ubur-ubur-kotak-si-indah-yang-mematikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/10\/08\/ubur-ubur-kotak-si-indah-yang-mematikan\/","title":{"rendered":"Ubur-Ubur Kotak, Si Indah yang Mematikan"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"1050\" data-end=\"1100\">Ubur-Ubur Kotak, Si Indah yang Mematikan<\/h3>\n<p data-start=\"1101\" data-end=\"2080\">Ubur-ubur kotak adalah salah satu biota laut paling berbahaya di dunia meskipun tampilannya transparan dan lembut. Hewan ini memiliki racun yang sangat kuat pada tentakelnya, cukup untuk melumpuhkan bahkan membunuh manusia dalam hitungan menit. Spesies ini banyak ditemukan di perairan Australia dan Asia Tenggara, terutama di daerah tropis yang hangat. Bentuk tubuhnya berbentuk kubus dengan tentakel panjang yang bisa mencapai tiga meter. Ubur-ubur kotak menggunakan racunnya untuk menangkap mangsa seperti ikan kecil dan udang. Selain racun mematikan, mereka juga memiliki kemampuan berenang aktif menggunakan kontraksi otot, berbeda dengan kebanyakan ubur-ubur lain yang hanya mengikuti arus laut. Sistem penglihatan mereka cukup kompleks, dengan beberapa lensa mata yang mampu mendeteksi cahaya dan gerakan. Meski berbahaya, penelitian terhadap racun ubur-ubur kotak memberikan manfaat medis, seperti pengembangan obat penghilang rasa sakit dan antiracun yang lebih efektif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ubur-Ubur Kotak, Si Indah yang Mematikan Ubur-ubur kotak adalah salah satu biota laut paling berbahaya di dunia meskipun tampilannya transparan dan lembut. Hewan ini memiliki racun yang sangat kuat pada tentakelnya, cukup untuk melumpuhkan bahkan membunuh manusia dalam hitungan menit. Spesies ini banyak ditemukan di perairan Australia dan Asia Tenggara, terutama di daerah tropis yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-809","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=809"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/809\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":810,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/809\/revisions\/810"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}