{"id":805,"date":"2025-10-08T00:30:11","date_gmt":"2025-10-08T00:30:11","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=805"},"modified":"2025-10-08T00:30:11","modified_gmt":"2025-10-08T00:30:11","slug":"keanggunan-ikan-pari-manta-di-laut-tropis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/10\/08\/keanggunan-ikan-pari-manta-di-laut-tropis\/","title":{"rendered":"Keanggunan Ikan Pari Manta di Laut Tropis"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"4209\" data-end=\"4260\">Keanggunan Ikan Pari Manta di Laut Tropis<\/h3>\n<p data-start=\"4261\" data-end=\"5229\">Ikan pari manta merupakan salah satu makhluk laut paling anggun dan megah yang sering dijuluki sebagai \u201csayap laut\u201d. Dengan bentang sirip yang bisa mencapai lebih dari tujuh meter, pari manta berenang lembut seolah menari di air. Hewan ini termasuk filter feeder, artinya mereka memakan plankton dan organisme mikroskopis yang disaring dari air laut menggunakan insang besar. Pari manta sering ditemukan di perairan tropis yang kaya nutrisi, terutama di sekitar daerah upwelling tempat plankton melimpah. Selain menjadi daya tarik wisata selam, pari manta juga memiliki perilaku sosial yang unik, sering berenang berpasangan atau dalam kelompok kecil. Sayangnya, perburuan liar dan ancaman dari jaring ikan membuat populasi mereka menurun drastis. Karena itu, banyak negara kini melindungi pari manta sebagai spesies yang dilindungi. Dengan gerakannya yang tenang dan elegan, ikan pari manta menjadi simbol kebebasan dan keindahan dunia bawah laut yang tak ternilai.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keanggunan Ikan Pari Manta di Laut Tropis Ikan pari manta merupakan salah satu makhluk laut paling anggun dan megah yang sering dijuluki sebagai \u201csayap laut\u201d. Dengan bentang sirip yang bisa mencapai lebih dari tujuh meter, pari manta berenang lembut seolah menari di air. Hewan ini termasuk filter feeder, artinya mereka memakan plankton dan organisme mikroskopis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-805","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/805","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=805"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/805\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":806,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/805\/revisions\/806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=805"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=805"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=805"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}