{"id":711,"date":"2025-10-08T00:22:23","date_gmt":"2025-10-08T00:22:23","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=711"},"modified":"2025-10-08T00:22:23","modified_gmt":"2025-10-08T00:22:23","slug":"paus-biru-raksasa-lautan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/10\/08\/paus-biru-raksasa-lautan\/","title":{"rendered":"Paus Biru Raksasa Lautan"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"7293\" data-end=\"7327\">Paus Biru Raksasa Lautan<\/h3>\n<p data-start=\"7328\" data-end=\"8210\">Paus biru adalah hewan terbesar yang pernah hidup di Bumi, dengan panjang hingga tiga puluh meter dan berat mencapai dua ratus ton. Meski ukurannya luar biasa, paus biru hanya memakan krill kecil yang disaring melalui baleen di mulutnya. Saat makan, paus dapat menelan air dalam jumlah besar dan menyaring mangsa menggunakan sistem khusus ini. Paus biru memiliki suara yang sangat kuat, digunakan untuk berkomunikasi dan mencari pasangan di lautan luas. Populasi paus biru menurun drastis akibat perburuan di abad ke-20, meski kini mulai pulih berkat perlindungan internasional. Hewan ini berperan penting dalam siklus nutrisi laut karena kotorannya membantu pertumbuhan plankton yang menghasilkan oksigen. Paus biru adalah simbol kemegahan samudra dan pengingat bahwa bahkan raksasa pun bergantung pada makhluk terkecil untuk bertahan hidup dalam keseimbangan ekologi yang rapuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paus Biru Raksasa Lautan Paus biru adalah hewan terbesar yang pernah hidup di Bumi, dengan panjang hingga tiga puluh meter dan berat mencapai dua ratus ton. Meski ukurannya luar biasa, paus biru hanya memakan krill kecil yang disaring melalui baleen di mulutnya. Saat makan, paus dapat menelan air dalam jumlah besar dan menyaring mangsa menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-711","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=711"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":712,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711\/revisions\/712"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=711"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=711"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=711"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}