{"id":691,"date":"2025-10-08T00:20:55","date_gmt":"2025-10-08T00:20:55","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=691"},"modified":"2025-10-08T00:20:55","modified_gmt":"2025-10-08T00:20:55","slug":"ikan-pari-manta-sang-penjelajah-samudra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/10\/08\/ikan-pari-manta-sang-penjelajah-samudra\/","title":{"rendered":"Ikan Pari Manta Sang Penjelajah Samudra"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"7497\" data-end=\"7545\">Ikan Pari Manta Sang Penjelajah Samudra<\/h3>\n<p data-start=\"7546\" data-end=\"8497\">Ikan pari manta adalah makhluk megah yang dikenal karena ukuran tubuhnya yang besar dan gerakannya yang anggun di laut terbuka. Dengan bentangan sirip mencapai tujuh meter, pari manta meluncur perlahan sambil menyaring plankton sebagai sumber makanannya. Spesies ini memiliki otak besar yang menunjukkan tingkat kecerdasan tinggi, termasuk kemampuan mengenali diri sendiri di cermin\u2014suatu tanda kesadaran diri yang jarang ditemukan pada hewan laut. Pari manta bermigrasi jauh melintasi samudra mengikuti arus plankton musiman. Sayangnya, mereka sering menjadi korban penangkapan untuk diambil insangnya yang dijual di pasar tradisional. Populasi pari manta kini menurun drastis, mendorong banyak negara menetapkannya sebagai spesies dilindungi. Penyelam dari seluruh dunia tertarik menyaksikan pari manta di habitat aslinya, menjadikannya ikon wisata bahari berkelanjutan sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut luas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ikan Pari Manta Sang Penjelajah Samudra Ikan pari manta adalah makhluk megah yang dikenal karena ukuran tubuhnya yang besar dan gerakannya yang anggun di laut terbuka. Dengan bentangan sirip mencapai tujuh meter, pari manta meluncur perlahan sambil menyaring plankton sebagai sumber makanannya. Spesies ini memiliki otak besar yang menunjukkan tingkat kecerdasan tinggi, termasuk kemampuan mengenali [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-691","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=691"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":692,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/691\/revisions\/692"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}