{"id":447,"date":"2025-09-16T09:02:34","date_gmt":"2025-09-16T09:02:34","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=447"},"modified":"2025-09-16T09:02:34","modified_gmt":"2025-09-16T09:02:34","slug":"interaksi-manusia-dan-biota-laut-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/09\/16\/interaksi-manusia-dan-biota-laut-2\/","title":{"rendered":"Interaksi Manusia dan Biota Laut"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"2373\" data-end=\"2426\"><strong data-start=\"2377\" data-end=\"2426\">Interaksi Manusia dan Biota Laut<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"2427\" data-end=\"3374\">Aktivitas manusia, seperti perikanan, wisata, dan pembangunan pesisir, dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem laut. Ekspedisi bawah laut menggunakan ROV dan kamera untuk mendokumentasikan dampak aktivitas manusia terhadap ikan, terumbu karang, plankton, dan moluska. Studi ini membantu memahami interaksi manusia-biota dan merancang strategi konservasi efektif. Kamera bawah air memungkinkan dokumentasi alami tanpa gangguan, sehingga perilaku biota dapat diamati secara autentik. Penelitian menunjukkan bahwa polusi, penangkapan berlebihan, dan perubahan habitat dapat menurunkan keanekaragaman hayati, mengurangi produktivitas laut, dan mengganggu rantai makanan. Perlindungan perairan dari aktivitas manusia menjadi penting untuk menjaga kelestarian biota laut, produktivitas ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya laut. Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan manusia-biota yang seimbang untuk mendukung ekosistem laut yang sehat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Interaksi Manusia dan Biota Laut Aktivitas manusia, seperti perikanan, wisata, dan pembangunan pesisir, dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem laut. Ekspedisi bawah laut menggunakan ROV dan kamera untuk mendokumentasikan dampak aktivitas manusia terhadap ikan, terumbu karang, plankton, dan moluska. Studi ini membantu memahami interaksi manusia-biota dan merancang strategi konservasi efektif. Kamera bawah air memungkinkan dokumentasi alami tanpa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-447","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=447"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":448,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447\/revisions\/448"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=447"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=447"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}