{"id":445,"date":"2025-09-16T09:02:23","date_gmt":"2025-09-16T09:02:23","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=445"},"modified":"2025-09-16T09:02:23","modified_gmt":"2025-09-16T09:02:23","slug":"ekosistem-rawa-pesisir-dan-keanekaragaman-hayati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2025\/09\/16\/ekosistem-rawa-pesisir-dan-keanekaragaman-hayati\/","title":{"rendered":"Ekosistem Rawa Pesisir dan Keanekaragaman Hayati"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"1384\" data-end=\"1453\"><strong data-start=\"1388\" data-end=\"1453\">Ekosistem Rawa Pesisir dan Keanekaragaman Hayati<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"1454\" data-end=\"2366\">Rawa pesisir merupakan habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk ikan muda, udang, kepiting, dan burung pesisir. Ekspedisi bawah laut menggunakan kamera, sensor kualitas air, dan sampel sedimen untuk mempelajari distribusi biota dan interaksi antarspesies. Rawa pesisir berfungsi sebagai penyaring nutrien alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan tempat berlindung bagi spesies yang rentan. Studi ini menunjukkan bahwa konservasi rawa pesisir membantu meningkatkan keanekaragaman hayati, produktivitas perairan, dan stabilitas ekosistem pesisir. Kamera bawah air memungkinkan dokumentasi alami tanpa gangguan manusia. Perlindungan rawa pesisir menjadi krusial karena reklamasi, polusi, dan pembangunan dapat mengurangi fungsi ekologisnya. Penelitian ini menegaskan pentingnya ekosistem rawa pesisir sebagai area pemijahan, tempat perlindungan biota muda, dan penyedia nutrien untuk perairan terbuka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ekosistem Rawa Pesisir dan Keanekaragaman Hayati Rawa pesisir merupakan habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk ikan muda, udang, kepiting, dan burung pesisir. Ekspedisi bawah laut menggunakan kamera, sensor kualitas air, dan sampel sedimen untuk mempelajari distribusi biota dan interaksi antarspesies. Rawa pesisir berfungsi sebagai penyaring nutrien alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan tempat berlindung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-445","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=445"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/445\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":446,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/445\/revisions\/446"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}