{"id":3798,"date":"2026-07-28T02:42:25","date_gmt":"2026-07-28T02:42:25","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=3798"},"modified":"2026-07-28T02:42:25","modified_gmt":"2026-07-28T02:42:25","slug":"padang-pasir-bawah-laut-yang-dinamis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2026\/07\/28\/padang-pasir-bawah-laut-yang-dinamis\/","title":{"rendered":"Padang Pasir Bawah Laut yang Dinamis"},"content":{"rendered":"<h1 class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"1ny789i\" data-start=\"5011\" data-end=\"5053\">Padang Pasir Bawah Laut yang Dinamis<\/h1>\n<p data-start=\"5055\" data-end=\"5708\">Dasar laut berpasir bukanlah wilayah yang kosong, melainkan habitat bagi berbagai organisme yang hidup dengan cara unik. Cacing laut, kerang, kepiting, belut taman, dan berbagai ikan mengubur sebagian tubuhnya untuk berlindung dari predator. Arus laut terus membentuk pola gelombang pasir yang berubah seiring waktu. Banyak spesies memanfaatkan sedimen sebagai tempat berkembang biak atau mencari makanan. Aktivitas manusia seperti pengerukan dan pencemaran dapat mengganggu keseimbangan habitat tersebut. Perlindungan dasar laut membantu mempertahankan kehidupan beragam organisme yang bergantung pada lingkungan berpasir sebagai tempat tinggal mereka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Padang Pasir Bawah Laut yang Dinamis Dasar laut berpasir bukanlah wilayah yang kosong, melainkan habitat bagi berbagai organisme yang hidup dengan cara unik. Cacing laut, kerang, kepiting, belut taman, dan berbagai ikan mengubur sebagian tubuhnya untuk berlindung dari predator. Arus laut terus membentuk pola gelombang pasir yang berubah seiring waktu. Banyak spesies memanfaatkan sedimen sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3798","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3798"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3799,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3798\/revisions\/3799"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}