{"id":3716,"date":"2026-07-28T02:34:04","date_gmt":"2026-07-28T02:34:04","guid":{"rendered":"https:\/\/niust.org\/?p=3716"},"modified":"2026-07-28T02:34:04","modified_gmt":"2026-07-28T02:34:04","slug":"teripang-sebagai-pembersih-dasar-laut-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/niust.org\/index.php\/2026\/07\/28\/teripang-sebagai-pembersih-dasar-laut-2\/","title":{"rendered":"Teripang sebagai Pembersih Dasar Laut"},"content":{"rendered":"<h1 class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"lq2dbm\" data-start=\"4471\" data-end=\"4514\">Teripang sebagai Pembersih Dasar Laut<\/h1>\n<p data-start=\"4516\" data-end=\"5198\">Teripang merupakan hewan laut bertubuh lunak yang hidup di dasar perairan berpasir maupun berlumpur. Hewan ini berperan sebagai pembersih alami dengan memakan sedimen yang mengandung bahan organik. Setelah dicerna, sedimen yang dikeluarkan kembali menjadi lebih bersih sehingga membantu menjaga kualitas dasar laut. Aktivitas tersebut mirip dengan peran cacing tanah di daratan. Teripang juga menjadi bagian penting dalam rantai makanan berbagai predator laut. Penangkapan berlebihan untuk kebutuhan perdagangan dapat mengurangi populasinya secara signifikan. Pengelolaan yang berkelanjutan diperlukan agar fungsi ekologis teripang tetap mendukung keseimbangan kehidupan bawah laut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teripang sebagai Pembersih Dasar Laut Teripang merupakan hewan laut bertubuh lunak yang hidup di dasar perairan berpasir maupun berlumpur. Hewan ini berperan sebagai pembersih alami dengan memakan sedimen yang mengandung bahan organik. Setelah dicerna, sedimen yang dikeluarkan kembali menjadi lebih bersih sehingga membantu menjaga kualitas dasar laut. Aktivitas tersebut mirip dengan peran cacing tanah di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3716","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3716","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3716"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3717,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3716\/revisions\/3717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/niust.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}